Kamis, 22 Agustus 2019

Dave & Ann

Somebody asked me "Do you love him?", I just smiled without saying anything. "Why?" the he asked me again. "He know how to treat a girl like me",  I answered it. "I also know how to treat you as well", I don't know what his goals to say that. "He never asked me first what I want, he instantly do it with simple words that really stick on my brain and my heart. He already took the best part of me, locked me inside."

"I regret, because I am afraid to show how I do love you so deep for decades", he said it and went away.

Before he left the room, he went back to me and gave me a box. "Please open this box before you sleep. You will know the truth".
20 minutes after that, I came to my sweet bed room, I was ready for my bed time, almost forgot to open the box. I saw it on the table which I put few minutes ago. I got surprised!
He made a beautiful painting, full colored, such an amazing gift that I ever had. There was a book, written on the cover 'Man Feelings'. It was a long story about the time he met me in a very beginning. He put me on detail. Now I know, there is me on someone's heart.

The things that he also did not know that someone that I always talking about, someone that I told the story about, is all about him. Not other else.
So, yeah, I just wondering, what I have to do if I was locking on others heart, not him.
"Congratulation, we are in the same frequency." I sent to him that sentence. Definetly, he would be starring and puzzling.
Nature will find you a location, time, and  a way to meet you with a person that match with you, forever.

He called me and he said "You made me shocked!
I thought there was a luckiest man who can get your heart. And he is not me."
I was still silent.
"You made me jealous with my self!"
"Haha. Gotcha!" I was laughing.
"Meet me tomorrow at 4 pm in a usual place", he said.
"Okay", then the phone was ended.

I thought I was late. The place was so silent. I was getting a bit nervous. "Hey!", he was Dave smiled at me. "Hai. So what we gonna do?" I asked. "Be patient. Just take your sit, Princess". Hm.. I was melting, you know!
We were in a joking until serious discussion. I forgot the exact time, my parents and my family came along. They sat on the chairs. Dave approached them and I followed him behind.

I was confused. Dave sat in front of my dad. He asked my dad "May I marry your daughter and make her as my Queen, Sir?".
😳 I cannot smile.
"This is only my imagination", I speak by myself.
"You have to finish your uni life first, then marry my Princess", my superhero answered him wisely.
I did not know what happened, Dave succeed made me cried in front of people.
Tomorrow, is our weeding day! Please come and join us. #Dave&Ann
-The End-

A short story about #Dave&Ann
By Nabilah Haruna
My 2nd English Short Story.

If you find any errors, please tell me. I am really happy for a critics, suggestion or any comments from you guys!
Btw, happy Thursday Night. Good night. Nice dream for all💕

Senin, 29 Juli 2019

Z&Z | Cerpen Karya Nabilah Haruna

Follow ig saya @nabbslll
Subscribe Youtube saya Nabilah Haruna
🤗💕


       Bagaimana aku bisa bilang "sayang" sementara kamu tidak mengasihiku?
Apa jadinya aku tanpamu? Ah, biasa saja. Bukankah sebelum bertemu kamu, aku terbiasa sendiri dan mengerjakan semuanya seorang diri?

"Lalu, untuk apa aku hadir?"
Tanyakan pada rumput yang bergoyang

#SebuahCeritaPendek
-nabilahharuna-

      Sore itu, senja begitu elok. Merona berwarna jingga. Kebetulan, aku sedang cuti ibadah. Biasalah, dapat jatah libur bulanan. 🤭
Aku duduk di belakang balkon rumahku. Ku pandangi lamat-lamat, "Indah nian langit ini. Anginnya sepoi, sayup-sayup mataku disapunya". Begitu aku bersenandung, eh bersyair. Hehe.
Sekejap ku lupakan rasa sakitku. Kemarin malam, telepon darinya begitu mengacaukan pikiranku. Kenapa pula dia harus meracau tidak jelas seperti itu?
Ah, sudahlah.

       Aku duduk hingga jingga berubah ungu kebiruan. Pernah lihat aurora? Ya seperti itu lah kira-kira bentuknya. Galaksi dan bintang gemintang sedang menari di angkasa. Kicau burung masih terdengar sesekali. Mungkin kesasar, lupa jalan pulang.
Ku nikmati betul pemandangan hari ini. Hm... tanggal 3 Maret 2003.
Aku ingat sekali. Tanggalnya cantik, yang membaca ini pun cantik. Kamu sedang tersenyum ya? Wah manis sekali. Coba deh senyumnya begitu terus kalau ketemu orang baru. Jangan judes, ntar kamu dijauhi orang lagi. Hehehe. Yah balik ke topik.
Malam ini aku duduk di balkon belakang rumah. Rumahku lantainya ada banyak. Ya masa cuma 2? Kan lantai banyak kan? Ratusan. Aku belum sempat hitung sih. Coba deh dihitung pasti lebih dari 2. Tingkatannya yang dua. Ya begitulah pokoknya. Rumahku bentuknya rumah panggung. Bukan untuk konser ya.

        Kamarku bersebelahan dengan dapur yang waktu kecil sering ku pakai jadi kolam renang. Bisa bayangin gak? Gak bisa pasti. Ya sudah, tidak usah dipaksakan. Imajinasi dan perasaan itu sama, sama-sama tidak bisa dipaksakan. 🤭😂
Di rumah berlantaikan papan jati itu, aku yang berkuasa penuh. Punya otoritas atas kesejahteraanku bersama rakyatku. 🙄 Eh gak kok bercanda. Jadi kakakku itu sedang merantau jauh sekali. Daerahnya cukup modern. Adikku pun sering ke luar kota bersama Bundaku. Ayah sih yang selalu stay at home almost 24 hours. Ayah bekerja sebagai Arsitek Proyek Besar. Beliau kerjanya lebih banyak di rumah.

      Karena aku anak rumahan, nongkrongnya kalau bulan di balkon, taman, manjat pohon mangga, atau di ruang kerja Ayah.
Ayah punya banyak koleksi gambar. Aku sering diajaknya mencorat-coret kertas gambar yang sudah dibelinya dari Jakarta. Kalau ke Jakarta, Ayah selalu mengajakku. Di usia 12 tahun, aku sudah jadi asisten Ayah. Mencatat keperluan Ayah selama bekerja, sebab Ayah begitu pelupa. Pensilnya kadang ditinggalkan di nakas tempat tidur, bawah ranjang, bahkan parahnya ada di sela tempat sikat gigi. Ayahku memang aneh. Sedikit lebih banyak cerobohnya dibanding Bundaku yang super disiplin. Bunda bekerja sebagai Diplomat. Sedang tugas di Aussie.

      Kapan hari, Ayah bercerita tentang kisah pertemuannya dengan Bunda. Romantis sekali. Sungguh. Aku sampai baper dibuatnya. Di usia 12 tahun adalah usia pertama kali aku mendengar kisah cinta. Ayah bilang, Bunda adalah cinta pertama dan terakhirnya. Meskipun Bunda super sibuk, Ayah selalu memahaminya. Tidak ada yang bisa sepaham Ayah dalam mengimbangi Bunda. Ayah bilang, "Bundamu 1 diantara Sejuta".
Kalau Bunda pulang, Ayah selalu menciuminya dengan sayang. Ayah juga sering menggendong Bunda dari sofa ruang keluarga menuju taman. Kami berlarian puas sekali.

       Aku jadi bercita-cita menjadi seorang Arsitek.
Sampai akhirnya, bukan aku yang jadi arsitek tapi dia.

Dia yang nyatanya mampu menaklukkan hatiku yang keras layaknya batu karam di lautan.

Kami bertemu di selasar perpustakaan kampus. Di sana ada bazar buku. Aku sedang mencari buku Psikologi karena aku mahasiswi Humaniora yang hobi membaca gerak gerik manusia. Ternyata dia pun mencari buku yang sama.

      Tangan kami hampir bersentuhan, memegang buku yang judulnya sama "Menaklukkan Dengan Moral".
Sampulnya berwarna biru. Ada gambar love dan panah di sana. Entah maksudnya apa. Usiaku 18 Tahun dan sudah masuk semester 5. Iya aku akselerasi sejak TEKA. TK hanya setahun karena bosan bermain terus. 😅
ESDE 4 tahun, ESEMPE 3 TAHUN dan ESEMA 3 Tahun. Pokoknya beitulah. Wajahku pun masih mungil sekali, macam bocah. Dia tersenyum, "Mbak mau beli ini?", "iya", kataku pendek. "Ya sudah ambil saja, mbak.", "Masnya gimana?", "Gak apa saya cari yang lain saja.", "Buat mas saja. Mungkin mas lebih butuh."

        "Mbaknya lebih antusias dan berbinar matanya mau beli buku ini. Silakan. Ambil saja". Dia tersenyum, manis sih tapi ah gak ah bukan tipeku.
"Oke, makasih", balasku dan berlalu membayar ke kasir yang matanya sedang bergerilya memandangi mas tadi.

Selang sebulan kemudian, ada bazar lagi. Kami jumpa lagi. Aku sudah mundur ke belakang saat melihat batang hidungnya. Ini kali ketiga kami bertemu. Hari itu, dia pakai kemeja biru langit. Warna kesukaanku. Dia menyapaku, "Mbak yang kemarin beli buku itu kan?", "Iya", "Saya Zein, kalau mbak?", "Zahrah".

--------

Sejak perkenalan itu, kami sering terlibat pertemuan di selasar perpustakaan. Hingga janjian setiap Rabu buat PKM di pojok ruangan dalam perpus yang super cozy dan adem banget.

Zein: "Ra, follow igku dong"
Zahrah: "Ogah!"
Zein: "Kok gitu jawabnya?"

Pemirsa, Zein yang rupawan, menawan dan jadi primadona kampus setelah dia di tetapkan sebagai Mawapres Utama adalah sosok yang sangat manja dan bawel bersamaku. Aku bahkan berasa punya bayi gede. Entah bapaknya di mana. Haha.

Kita sudah 3 bulan terakhir ini sering kerjain proyek tapi Zein tidak pernah melihatku memakai ponsel. Kerjaku hanya membuat gambar, desain dan notebook yang selalu ku bawa di ransel ku.

"Aku gak punya HP, Zein. Kata Ayah, putrinya ini gak boleh dibiarin pakai HP nanti digodaian cowok nakal tukang PEHAPE". Jelasku padanya yang sudah seriiiing banget minta nomor whatsapp tapi yang ku kasih malah nomor Bunda dan Nomor Ayah. Walhasil, dia malu. Haha.

"Terus, itu Ayah kamu yang kemarin balas chat aku?", matanya membelalak. Pipinya memerah. Baru kali ini aku melihat rautnya demikian.

"Iya. Emang kamu chat apaan? Kok Ayah belum cerita?", tanyaku begitu polos.

"Aku bilang Aku Rindu Kamu Ara".

"Hah? Sumpah? Wah cari masalah emang nih bocah. Pantesaaaaan Ayah gak ngomongin aku dua hari ini. Wah gak beres kamu. Udah ah aku balik duluan. Panjang nih ceritanya."

"Kamu ada hubungan apa dengan Ayahmu?"

"Aku anaknya. Gimana sih?"

"Ada berita Ayah dan Anak punya hubungan lebih dari itu."

"Astagfirullah ngaco kamu! Ayah gak bolehin aku pacaran, kenal cowok, telponan, boncengan, chatan, sampai usiaku genap 20 tahun. Kenapa? Karena Ayah bilang cowok itu banyak yang nakal. Harus cari kayak Ayah. Yang baik."

Jelasku panjang kali lebar sama dengan luas.

"Aku gak percaya."

"Ya sudah bodoh amat!"

Aku bergegas dan mengambil tasku dari locker. Zein masih duduk terpaku dan membiarkanku berlalu.

Di rumah, Ayah duduk di sofa. Melengkungkan lengan dengan tidak ramah memintaku duduk di depannya.

"Ara, duduk. Ayah mau bicara".

Firasatku terjadi.
Aku duduk dan menatap Ayah canggung.

"Berapa usia Ara sekarang?"

"18 Tahun lebih 6 bulan, Yah"

"Berapa Tahun lagi menuju 20?"

"1 tahun 6 bulan, Yah".

"Artinya?"

"Ara bentar lagi Wisuda, Yah"
Jawabku polos. Ya kan memang harusnya usia 20 aku udah wisuda dong. Wisudawan termuda tentu saja.

"Bukan itu. Yang lain. Masa kamu lupa?"

"Gak paham, Yah". Jawabku lagi.

Aku berusaha untuk tidak menyebut kata pacaran. Sumpah aku malu. Ish dasar Zein geblek.

"Ayah di chat sama teman kamu. Dia bilang dia rindu sama Ara. Senyumnya ara dan tingkah konyol Ara."

"Hah? Kok bisa dia bilang gitu?"

"Karena Ayah balas seolah-olah itu kamu."

Alamak Ayah jahil betul. Pantes aja.

"Dia bahkan ungkapin perasaannya loh."

What? Sumpah? Wah parah.

"Mana? Coba Ara lihat" pintaku dengan masih tidak percaya.

Pantas saja akhir-akhir ini Zein tingkahnya aneh. Dia membantuku tanpa ku minta. Membelikanku makanan di kantin yang jauh ya 100 meter dari jarak perpus. Dia juga yang bayarin. Selama ini, aku tidak dibiarkannya mengeluarkan uang sepeserpun. Entah kenapa aku rasa anak itu nyaman denganku. Tapi aku gak geer sih. Mungkin aku hanyalah salah satu dari jutaan yang sudah membuatnya lebih nyaman.

Aduh kenapa aku ini. Temponya singkat hanya 3 bulan.

"Dia ingin meminangmu. Sebelum kamu sampai ke rumah, dia menelpon Ayah dan meminta Ayah untuk bertemu. Dia bilang kamu mau pulang. Makanya Ayah minta kamu belanja dulu biar agak lama pulangnya."

Pantes aja tiba-tiba ayah mengirim email dan memberi perintah untuk singgah di Pasar beli sayur mayur, buah, bumbu, ikan, ayam, karena memang yang masak di rumah aku sama ayah aja. Kan Bunda 5 kali sebulan baru di rumah.

Aku diam. Terperangah. Secepat itu?

"Dia usianya beda 5 tahun dari kamu. Dia membangun perusahaan kecil yang memang dikhususkan untuk membuat denah rumah dan lain sebagainya. Dia itu sudah dapat sertifikasi keahlian arsitektur sebelum dia sarjana. Kamu tahu gak kalau dia itu kandidat Doktor di kampusmu?"

Hah? Doktor? Bocah itu doktor? Yang benar saja. Kok aku kudet ya.

"Ayah sudah mengenalnya karena Ibunya adalah klien Ayah dulu. Dia juga baru tahu kalau selama ini yang membalas pesannya itu Ayah bukan Ara."

"Wait... kok Ara gak pernah tahu semua itu? Ara cuma tahu dia anak psikolog. Kami kerjain paper loh yah. Mau diajukan sebagai PKM. Doktor kan gak bisa".

"Dia itu pembimbing kamu. Kamu gimana sih? Kamu gak pernah tanya dia?"

Malas banget ya aku tanya tentang dia. Selama ini yang kepo itu dia ke aku. Wah ini parah. Pantesan banyak dosen yang sapa dia. Aku pikir dia mawapres. Ternyata dia sejagat raya prestasinya.

Ampunilah aku Tuhan.

"Jadi gimana, kamu mau nikah sama dia?"

"Gak. Astagfirullah, Ayah. Pacaran aja gak boleh apalagi Nikah. Ayah bilang 20 Tahun. Terus ayah bilang harus sama kayak Ayah. Kalau Zein itu cowok nakal gimana? Ah aku gak mau". Aku ingin segera mengakhiri pembahasan yang mengejutkanku ini.

Selama 3 bulan akrab dengan Zein, aku benar-benar tidak pernah tertarik dengan kehidupannya. Siapa dia, pendidikannya, jurusannya, gak ada sama sekali. Kita hanya ngobrol banyak hal. Seputar psikologi nyambung, dunia gambar menggambar apa lagi. Waduh emang parah aku.

Besoknya, aku duduk di taman perpus. Mendengar murottal dan membaca Ayatul Kursi. Siapa tahu aja banyak setan yang menganggu pikiranku sekarang.

Zein tiba-tiba duduk disampingku dan berkata, "Selamat Pagi Calon Istriku".

Aku menyengitkan dahi, dan tmengabaikannya. Siapa pula dia mengakuiku sebagai calon istrinya? Enak aja.

"Ara sayang, kamu kenapa? Marah ya?"

Aku melepas earphone ku dan menghadap ke wajahnya.

"Maaf, Pak. Saya masih bocah. Tidak selevel dengan bapak. Jam 7 tadi, ada perempuan cantik menghadangku di cafetaria fakultas. Dia bilang aku harus menjauhi Bapak Zein karena dia keberatan aku selalu menjadi perbincangan di keluarga bapak. Maaf Pak saya tidak tahu kalau bapak bukan mahasiswa S1 seperti saya. Saya pamit". Kataku sambil menunduk.

"Tunggu. Saya harus jelaskan semuanya sekarang, Ara".

"Ayah sudah jelasin. Semuanya sudah jelas. Saya belum kepikiran untuk menikah. Silakan mencari yang lain saja. Tolong, jangan menemui saya lagi. Maaf kalau selama ini saya lancang. Saya minta maaf. Terima kasih sudah jadi sahabat yang baik. 3 bulan yang berarti."

Aku meninggalkan taman itu bersama Pak Zein yang berkaca-kaca matanya.

Sejak saat itu, aku tidak lagi mau mengunjungi perpustakaan itu. Aku memilih mencari perpustakaan lain. Aku selalu menghindari tempat di mana Pak Zein bisa melacak keberadaanku.

6 bulan aku kucing-kucingan. Berusaha melupakan semuanya. Tapi, ada hari di mana aku melihatnya bersama perempuan lain. Bukan perempuan yang mencegatku. Dia lebih modis, sederhana dan rambutnya di gerai begitu saja. Sempurna. Mereka pasangan serasi.

Entah kenapa mataku tertangkap basah. Pak Zein mungkin merasa sedang ada yang memata-matainya saat itu. Dia menangkap objekku dan aku bergegas.

"Inikah patah hati?", tanyaku seorang diri.

"Aku rindu, Zein"....

****Tamat****

Selasa, 25 Juni 2019

Kilas Balik AYIMUN 2018


Sudah banyak banget yang nanyain soal AYIMUN. Kegiatan Internasional pertama yang saya ikuti dan juga merupakan kali pertama menguras otak lagi setelah beristirahat sekian lama.

Semenjak duduk di bangku kuliah tahun 2016 bulan Agustus silam, saya memutuskan untuk beristirahat dari pundi-pundi kejayaan mengikuti lomba. Alhamdulillah beberapa kali mewakili Sulawesi Barat ke tingkat Nasional sejak SMP hingga SMA.

Saya pun pernah mengalami keteteran karena harus mengejar ketertinggalan proses PBM di SMA. Jadinya, saya harus ekstra memburu selama 3 bulan untuk 3 tahun, begitu istilahnya. Alhamdulillah, Allah Maha Baik karena membantu saya bisa lolos Ujian Nasional berbasis Komputer itu. Saya juga berhasil lolos ke kampus tercinta dengan jalur SNMPTN. Jadinya, saya capek deh. Lelah bukan main. Otak sudah terkuras selama bertahun-tahun.

Setelah hampir 2 tahun mengenyam pendidikan dibangku kuliah, saya lantas tidak hanya tahu kos dan kampus saja kok. Saya tetap aktif berkegiatan di lingkup masyarakat. Saya lebih banyak terjun ke lapangan, bukan lagi lomba-lomba dan sejenisnya. Saya aktif jadi relawan, bahasa kerennya Volunteer. Saya beberapa kali jadi tutor bahasa Inggris secara gratis untuk umum, jadi tutor di panti asuhan, dan baru-baru ini selesai masa kontrak menjadi tutor bahasa Indonesia bagi penutur Asing. Pengalaman saya menjadi seorang tutor tentu tidak bisa saya lupakan dan begtu membekas di memori saya. Berkesempatan menjadi tutor sebaya mahasiswa asing dari berbagai negara, mulai dari Thailand, Amerika, terakhir ini dari Taiwan.

Selain itu, saya juga aktif menulis sehingga bisa menghasilkan dua hasil karya. Pertama adalah Surat Terakhir dan yang kedua adalah Rahasia Menulis Essay Bantu Kamu Lolos Beasiswa Unggulan, tanggal 9 Juni 2019 kedua buku ini saya launching di Pambusuang, Sulawesi Barat.
Saya juga aktif menjadi pemikir dan konseptor berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi daerah IKMSB Malang.

Back to the topic~

Saya rindu sekali dengan lomba pada akhirnya. Saya ternyata tidak bisa terlalu lama membiarkan otak saya beristirahat. Saya terlalu cemburu dengan teman-teman sejawat saya yang dulunya pernah satu lomba bahkan sampai sekarang saya dianggap sebagai pesaing tangguhnya. Hehe. Itu perasaan mereka saja, kalau saya mah menganggap semua lawan itu kawan.

Saya akhirnya mencari dan mengumpulkan banyak informasi mengenai event Internasional. Saya sudah cukup puas berkeliling Nusantara secara gratis melalui lomba-lomba yang saya pernah ikuti, meski belum semuanya saya kunjungi. Sehingga, cita-cita sejak kecil saya keliling Dunia secara gratis ingin saya realisasikan. Tahun 2018, saya gencar mencari dan menyeleksi sendiri apa yang bagus dan memang cocok dengan kemampuan saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Asia Youth Model United Nations yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand pada bulan November yang lalu.

Awalnya saya sedikit tidak percaya diri, apakah bisa berangkat atau tidak karena biayanya cukup mahal. Tapi saya punya beasiswa, yang saya rasa cukup membantu saya untuk berangkat. Tidak berhenti sampai disitu, saya mencari informasi cara untuk bisa pergi dengan sponsorship. Saya juga cari senior yang berkali-kali dapat sponsor dari kampus. Alhamdulillah saya ikuti semua alurnya dan nikmati segala prosesnya, saya pun dapat sponsor dari Fakultas Sastra dan Universitas Negeri Malang. Biaya kegiatan dan tiket pesawat pulang pergi. Sungguh, pengalaman yang luar biasa.

Perjalanan saya ke Thailand sangat menyenangkan. Ditambah lagi saya yang sengaja membeli tiket yang transitnya lama di Singapura. Sekali menyelam, minum air banyak-banyak. Satu kali perjalanan, dua negara dikunjungi. Akal bulus yang cerdik dan super positif.

Saya bisa menyusuri jalanan di Bangkok. Sebenanrnya tujuannya bukan jalan-jalan tapi jadi wakil negara alias seperti diplomat begitu.

Saya jadi delegasi New Zealand yang membahas tentang Bitcoin. Saat menulis paper statement mengenai bitcoin di negara orang lain itu susahnya bukan main. Saya sampai nangis saking stressnya. Saya hampir depresi juga. Hampir menyerah? Tidak sih.

Saya tidak kehabisan akal. Saya chat pribadi panitianya meminta untuk berbaik hati mengganti council saya dari IMF ke UNESCO tapi tidak boleh. Sedih banget. Akhirnya saya pun mencoba menerima dan legowo atas apa yang sudah ditakdirkan untuk saya. Saya membaca banyak artikel tentang IMF. Mencob memahmi tapi saya tidak paham-paham juga. Saya baca panduan yang disediakan panitia malah saya makin meringis kesakitan. Saya pun meberanikan diri untuk chat chairmannya. Saya meminta untuk dibuat mengerti dengan bahasa yang sederhana. Setelah berdikusi panjang lebar dengan chairman dan banyak orang yang paham tentang ekonomi, otak saya bisa berjalan semestinya.

10 hari sebelum pengumpulan akhir, saya mencoba menulis hal yang sudah saya pahami. Tidak sedikit artikel yang saya tamatkan membacanya agar tidak keliru. Selain belajar ekonomi, saya juga menggali ilmu tentang New Zealand. Negara yang akan saya perjuangkan di sidang ala PBB nantinya.


Singkat cerita, kegiatan AYIMUN cukup menarik dan menantang. Tadinya saya juga nervous harus bagaimana karena saya newbie alias orang baru dalam kegiatan ini. Di dalam ruangan besar itu, saya memperhatikan dan menganalisa sendiri cara bermainnya. Sampai saat saya paham, saya pun ikut arusnya dan ternyata tidak semenakutkan itu.

Saya dua kali naik ke podium menyatakan hasil pemikiran saya dan banyak disetujui oleh peserta sidang. Momen yang tidak bisa dilupakan.

Setelah seharian full, siang sampai malam kita sidang, saatnya jalan-jalan. Saya sudah ke pasar terkenal di sana, lupa namanya. Tapi ada juga hal yang menakutkan yang saya alami di sana. Saya pernah cerita di snapgram waktu itu.


Saya ke suatu market night yang ternyata tidak sesuai dugaan kami. Ternyata di sana menjual bir, dan diskotik sepanjang jalan. Para bule mancangeara ada di sana. Pakai pakaian mini, menari bersama lawan jenis, minum bir sembarangan, ciuman di tengah jalan Sungguh, itulah neraka yang nyata bagi saya. Saya ingin menangis. Bagaimana jika Allah ikut melaknat saya? Saya menahan napas, dan buru-buru mencari jalan keluar. Jalannya cukup jauh. Hampir 500 meter saya berjalan. Saya tidak minat lagi beli apa-apa di sekitar pasar itu. Saya cukup syok melihat pemandangan yang saya pikir hanya akan saya baca dalam artikel, berita atau di video yang sembarangan tidak sengaja dilihat. Sunguh, saya terguncang malam itu. Saya panik dan ketakutan. Lebay memang, tapi itulah kenyataannya. Naudzubillahimindzalik. Saya jadi parno setelah malam itu. Maunya nangis aja kalau ingat kejadian itu.

Untuk melupakan kejadian itu, besoknya kita jalan-jalan lagi. Kali ini, harus baca review di google dulu. Ke pasar Thailand yang serba murah. Saya jadi jubir teman-teman. Saya berbahasa Inggris campur sign language karena mereka mempercayai saya bisa berkomunikasi dengan baik dengan driver dan orang-orang yang tidak begitu lancar berbahasa Inggris di sana. Agak lucu memang, tapi seru banget.
Suasana Simulasi Sidang PBB "International Monetary Fund"
Pict by Nabilah Haruna




(to be continued)

Sabtu, 04 Mei 2019

Istana Bersama

Aku mengecam rindu yang menyiksa.
Batinku sesak hingga hampir roboh pertahananku.
Entah di mana dan bagaimana ia kini?
Hatiku tak luput menyebut namanya dalam rapalan doa.
Ku minta-Nya beri perlindungan untuk raga, jiwa, dan batinnya.

Bila bisa berkata yang jujur, siapa pula yang mau seperti ini?
Merentang jarak dan sengaja mengulur waktu.
Padahal sungguh, hati tak bisa diajak kompromi.

Hai, apa kabar?
Sapaku dari jauh.
Tidak terdengar, namun resonansi cinta menyampaikan pada telinga yang langsung sampai ke hatiku.
Semoga kau pun begitu.

Kita sudah se-frekuensi.
Se-jalan dan se-pemikiran.
Tapi apatah boleh dikata, bila mewujudkan cita-cita orang tua haruslah jadi prioritas utama. Sebelum dijemput olehmu, duhai cinta yang candu.

Semua akan Indah pada Waktunya, asal kita rela dan mau untuk lebih banyak menyetok sabar dan ikhlas.

Aku mau kamu bertahan.
Dan aku mau aku pun bertahan.
Dengan tujuan kita yang selaras.
Tanpa batas dikemudian hari.

Merencanakan masa depan bersamamu.
Mengarungi bahtera lautan samudera dengan ombak yang kadang sadis menerjang, badai yang sulit untuk pulang, dan api yang kadang menggelora.

Biarlah kita berjalan masing-masing.
Asal hati tetap saling bertautan.

Namun pabila andai mata dan hatimu tidak lagi setia, maka rela yang hanya akan jadi senjata.

Apakah secepat itu untuk ikhlas? Mungkin tidak, namun kan ku usahakan.

Tetapi, sungguh aku tidak ingin menerka sesuatu yang jauh melampaui nalarku.
Yang ku mau hanya berdoa yanh terbaik.
Semogakan engkau menjadikan ku pelabuhan terakhir untuk kau singgahi dan kau jadikan tempat untuk menetap.

Dengarlah sayang,
Rumahmu ada di sini.
Pulanglah jika penatmu sudah terlalu menyerang keringat terlalu deras.
Pelukku akan jadi penghangatmu, dari dinginnya dunia yang kata mereka begitu kejam.

Biarlah mereka menertawai kisah kita yang belum lengkap.
Akan ada waktu yang penuh suka cita, mengabadikan kita dalam sejarah.

Kali ini, aku tidak ingin menyesali apapun yang pernah terukir bersama.
Pahatannya indah, bak khatulistiwa melukis pelangi.

Aku tidak mau bilang cinta tanpa bukti yang nyata.
Segeralah datang, dan jemput aku.
Di sini, di tempat kita mendesain istana bersama.

-nabilahharuna-

Beautiful Love Story

4 May 2019

Jumat, 19 April 2019

Mantu Idaman untuk Mama

Beberapa pekan terakhir, lagi sering berdiskusi soal asmara dan ujung-ujungnya bahas sosok lelaki idaman yang sekiranya layak jadi pasangan hidup.

Mama, adalah satu-satunya teman diskusi yang paling lucu saat membahas hal ini. Mama pasti mengaitkannya kepada sosok Papa yang tidak ada duanya.

Papa yang setia, papa yang berani, papa yang pekerja keras, bertanggung jawab, dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, papaku ganteng.

Hehe.

Mama berpesan kepadaku, putrinya yang sudah menginjak usia 21 tahun dan sedang galau masalah hati dan perasaan yang akhir-akhir ini mengacaukan fokus, melululantahkan tembok cina eh cinta eh cita ding. Apasih. Wkwkw.

Mama bilang gini, "Kalau ada yang baik, sholeh, sudah punya kerjaan, mama terima nak. Mama restui. Asalkan kamu selesaikan dulu S1mu, kejar cita-citamu kuliah S2 di luar negeri, punya kerjaan sendiri. Karena jaman sekarang, perempuan harus punya penghasilan sendiri biar laki-laki tidak semena-mena sama kita. Mereka tidak bakalan mudah menyeleweng karena kita punya uang sendiri. Kita mandiri. Kita kuat."

Selain itu, putrinya ini sempat curhat soal poligami. Mama angkat bicara, "Alhamdulillah papamu sekalipun tidak pernah bahas poligami. Berniat saja tidak ada."

"Memuji perempuan cantik pun tidak pernah. Karena papamu menjaga hati mama."

Tahu betul bagaimana hati mama akan sakit kalau menyebut atau memuji perempuan lain. Papa memang idaman. Saya pernah beberapa kali mencoba menggoda papa, "Pa cewek itu cantik ya?". Dengan singkat papa menjawab, "Ah mana ada itu cantik? Biasa aja". Wkwkw kasian sekali cewek atau perempuan itu.

Faktanya, papa dulu juga primadona di sekolahnya. Papa seorang atlit sepak bola, takraw, tennis meja, bulu tangkis, dan beberapa cabang olahraga lainnya. Performa papa di bidang olahraga dipuji banyak orang. Utamanya kaum hawa. Tidak sedikit yang mengirimi papa surat cinta. Tapi papa malah mengirimnya ke mama, tanpa papa baca terlebih dahulu. Dibalas pun tidak. Oh tega sekali. Wkwwk.

Mama dan papa saling mengenal sejak SMP. Dulu, pacaran tidak seperti sekarang. Semuanya tidak terlihat. Hanya sahabat terdekat saja.

Singkat cerita, mama dan papa menikah setelah mama punya kerjaan dan penghasilan tetap sebagai guru Bahasa Inggris. Sebenarnya, papa sudah lebih dahulu bekerja. Saat mama kuliah, papa bekerja di PDAM. Papa menabung untuk biaya pernikahannya. Di masa seperti itu, mereka LDR-an. Tidak ada yang bisa menebak dan memprediksi masa depan. Tetapi cinta mereka tidak pudar. Walau mama ada di Makassar, papa tidak alpa berkunjung ke rumah mama di Tinambung. Bersenda gurau dengan calon ibu mertua, calon bapak mertua dan calon iparnya.

Kisah cinta klasik yang menyejukkan hati.

Siapa bilang mamaku bukan primadona? Mama juga banyak disukai kaum Adam. Pasalnya, mama dikenal sebagai perempuan cerdas, kreatif, dan mandiri. Parasnya mungkin tidak secantik model atau selebriti, tapi pancaran kharisma dalam dirinya membuat mama dicintai dan disenangi banyak orang dan banyak kalangan.

Bahkan saat mama sudah resmi dilamar oleh papa, masih ada yang nekat mau meminangnya. Duh duh.

Ini adalah kisah cinta pertama dan terakhir yang diabadikan dalam sebuah pernikahan. Mereka menikah 26 Desember 1993, tepat 25 tahun yang lalu. Dikaruniai 3 anak perempuan dan sekarang mama papa sudah punya 2 cucu yang lucu. Jagoan.

Siapa yang tidak mau meneladani kisah mereka? Apalagi saya sebagai putri kandungnya.

Mama pun mengutarakan sosok menantu idamannya.
1. Tidak merokok
2. Bacaan sholatnya bagus
3. Bisa jadi imam sholat
4. Pandai memimpin
5. Pergaulannya baik
6. Dari keluarga baik-baik
7. Mapan (apapun pekerjaannya asalkan halal)
8. Tidak pelit alias dermawan
9. Bukan pecandu narkoba dan minuman keras
10. Tidak berniat poligami
11. Setia
12. Pengertian
13. Perhatian
14. Menyukai anak kecil
15. Memahami isi hati pasangannya
16. Menyayangi orang tua
17. Yang paling penting agama dan akhlaknya bagus
Dst.

Poin 10 dan 17 ini yang sulit dicari zaman sekarang. Tapi semoga bisa menemukan menantu idaman untuk mama.
Aaamiin Allahumma Aamiiin.

Segenap hati ingin mengabdi pada mama dan papa. Sempat berpikir untuk menikah setelah wisuda sarjana, tapi diingatkan lagi dengan target serta cita-cita yang sedari dulu dipersiapkan.

Belajar ilmu pra-nikah dari berbagai kajian di Youtube ustadz-ustadz, belajar memahami karakter suami dan istri, tanggung jawab masing-masing, hak dan kewajiban, serta mempelajari usia yang matang untuk menikah. Tidak lupa, belajar ilmu parenting, ilmu untuk mendidik anak-anak. Toh menikah tentu punya tujuan melahirkan generasi penerus. Perempuan akan menjadi ibu, madrasah pertama untuk anak-anaknya.

Terngiang terus dibenakku tentang amanah almarhumah Nenek Ibu, "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum menikah".

Usia 25 tahun cukup ideal untuk menikah. Matang secara mental dan fisik. Bisa mengontrol emosi dan tidak labil.

Sekarang, waktunya kembali fokus menyelesaikan studi akhir. Mengejar cita-cita dan mempersiapkan diri agar nantinya ketika Allah berkata sudah saatnya dipertemukan oleh sang Raja, maka saya sudah siap. Lahir dan batin. Inshaa Allah.

Untuk Raja masa depanku,
Jikalau membaca ini, semoga kamu bisa memenuhi semua tipe idaman mama ya.
Tidak merokok juga cool banget di mataku. Lagian, orang merokok paling ku benci apalagi menghebuskan asap di sekitaranku. Tidak beretika sama sekali. Jadi, kamu jangan merokok ya. Sayangi paru-parumu.

Kamu, Raja masa depanku.
Pemimpin dan nahkoda kapal yang berisi kita dan keluarga kecil nantinya,
Jaga hati baik-baik.
Jangan suka menggombal perempuan.
Memujinya cantik.
Apalagi berniat poligami.

Semoga kamu, dijaga oleh Allah.
Sampai jumpa di masa depan.
Jika bukan di dunia, kita bertemu di surga ya.
Kalau beruntung, semoga kita disandingkan di dunia dan di surga.
Aaamiiin Allahumma Aamiiin.

Ku benamkan cintaku padamu
Ku titipkan rasaku pada-Nya.

Bersabarlah duhai hati,
Untuk dipertemukan denganmu,
Sang Raja di hati.

-nabilahharuna-
Malang, 19 April 2019

Selasa, 19 Maret 2019

Faqih, inspirasiku

Faqih, si kecil yang lincah dan tangguh sejak dalam kandungan Bundanya. Satu-satunya laki-laki setelah papa yang ada di dalam rumah sejak 2012. Bayi ini menakjubkan. Lahir saat bulan Syawal. Kelahirannya disaksikan oleh dua keluarga besar dari mama dan papa (waktu itu ada reuni keluarga besar). Dia lahir setelah Isya. Saat Bulan dan Bintang berada pada titik sejajar. Bulan Purnama waktu itu. Pangeranku, pengejuk mataku. Penghibur semua orang di rumah. Keceriaannya begitu menghangatkan. Ponakan pertama sekaligus lelaki sematawayang papa dan mama (cucu yang dianggap anak terakhir)sampai tahun 2019 awal. Perkembangannya cepat. Dan saya adalah orang yang paling dekat dengannya, menyaksikan tumbuh kembangnya. Bahkan bereksperimen dengan dia😅 Sumber inspirasiku. Seorang bocah yang mampu membuat nabilah berubah. Dulunya tidak mau dipanggil tante dan malu jadi seorang tante (padahal udah banyak banget tuh ponakan dari sepupu). Tapi Faqih mengubah segalanya. Saya lebih suka memanggilnya 'nak' daripada 'dek'.

Diusia saya yang masih SMP saat itu memang masih kaku menyebut 'nak', tepat di usia SMA saya lebih suka menyebutnya 'nak'. 'Anakku' karena darinya saya mulai belajar arti penting seorang Ibu. Saya memang bukan ibunya, tapi saya punya andil besar dalam membesarkannya bersama Mama dan Bundanya.

Kisahnya mungkin tidak seindah anak kebanyakan. Tapi dia mampu menginspirasi banyak orang. Suatu saat nanti, saya ingin menuliskan dan membuat karya khusus tentangnya. Tentang kehidupan seorang anak ajaib yang lambat bicara tapi mampu melafadzkan adzan, bersholawat, dan cinta lagu-lagu berbahasa Arab.

Kami, yang mencintainya percaya seorang Ahmad Faqih kelak akan menjadi pesohor Agama, pemuka Agama, pecinta Agama dan semoga bisa menjadi seorang Hafidz Quran yang akan menyelamatkan kami di akhirat kelak.

Anakku, Bunda Ila mencintaimu.
Selalu.
Selamanya.

Berasa punya anak kandung meski belum pernah mengandung (bersuami aja belum)🤣

Kenapa akhirnya saya melakukan penelitian tentang Speech Delay? Karena banyak orang disekitar kami yang sok tahu dan sok pintar melakukan justifikasi terhadap pangeran pertama ku ini.

Mereka bilang Faqih autis.
Mereka bilang Faqih bodoh.
Mereka bilang Faqih anak nakal.

👶

Saya memang bukan ibunya, tapi saya tersinggung dan sakit hati. Marah semarah-marahnya. Begitu juga mamaku, papaku, apalagi bundanya.

Kami diam. Kami hanya berdiskusi. Kemudian memutuskan untum menutup telinga.
Biarlah kami menjaga dan merawat pangeran kami sebaik mungkin. Biarlah orang menertawakan dan mengejek.

Saya yang akan mematahkan argumentasi mereka dengan KARYA NYATA.
Saya membuat penelitian saat ini tentang itu. Untuk skripsi saya. Dan semoga kelak saya bisa menjadi seorang yang dapat membantu orang tua yang memiliki anak speech delay untuk tidak lagi khawatir berlarut-larut.

Gelar Sarjana inshaa Allah akan saya dapatkan sebentar lagi (mohon doanya). Dan skripsi saya membahas tentang Speech Delay.

Inshaa Allah akan saya lanjutkan riset tersebut dijenjang Magister bahkan Doktoral Degree. Semoga Allah memberi umur panjang dan berkah.

Saya mencintai pangeranku, anak sematawayangku saat ini.

Sekarang sudah punya adik. Dia memang layak menjadi seorang Abang.

Dia penyayang sekali.
Dia cerdas sekali.
Dia imut sekali.
Dia ganteng sekali.

Ahhh rasanya tidak rela kalau nanti ada perempuan yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya membuat dia patah hati. Semoga saja dia langsung dipertemukan dengan jodohnya saja. Biar tidak perlu menye-menye. 😅🤲

Nak, kelak kamu bisa membaca ini.
Bunda Ila mencintaimu dengan tulus.

(Sering dipanggil Bunda dan Onty sama ponakan dari sepupu)

😷

Terdengar asik ya kalau bilang Bunda. Lebih dekat. Kalau onty masih ada gaps.

Okedeh Bunda Ila🤗

Oh Faqihku sayang, tumbuhlah dengan menjadi anak sholeh yang dermawan, gagah, berani, tangguh, dan menjadi lelaki bertanggungjawab.

I love you, nak.
Terima kasih telah menginspirasi onty sekaligus bundamu ini.

Ps: saking dekatnya sama Faqih, kalau ada yang tanya dia anaknya siapa? Dia bilang "anaknya Ila" 😅🤣

Senin, 11 Maret 2019

Belajar Terbiasa

Sulit juga ternyata membiasakan diri menjadi seperti sedia kala.
Menjadi biasa dan tidak berpikir hal yang mungkin tidak perlu dulu untuk dipikirkan.

Then, I against it.
Ternyata apa yang kita pikirkan dan kita rasakan bukan terjadi secara kebetulan. Itu sudah saatnya dan sudah tiba fasenya.

Sama, saat membicarakan hal yang nyeleneh, bercanda dan serius.

Berandai-andai pun dilarang. Ya sudah, kita bermimpi saja. Hehe.

Jika masuk ke dalam rumah orang harus mengetuk pintu, kenapa saat keluar rumah tidak pamit terlebih dahulu?

Bila memang perjalanan harus diakhiri segera, kenapa tidak berhenti saja?

🤔

Sehari, dua hari, tiga hari, sepekan, dua pekan, sebulan, tiga bulan, setahun, dua tahun, satu dekade, dua dekade, haha. Lama juga ya.

Apa penyebabnya ada pada letak usia dan kedewasaan?

Langkahku terhenti sampai disini. Menjaga jarak dan hati adalah yang terbaik.
Doaku teriring serta untukmu. Semoga terus bahagia dan tidak berhenti berkarya.

Aku hanya akan meneruskan tulisan-tulisanku. Membicarakan tentang apa saja. Dan semauku saja.

Ku pikir akan ada sebuah keputusan. Ternyata tidak juga.
Selama semuanya belum terlalu jauh, ada baiknya memang kalau tidak ku teruskan.

Hatiku terlalu rapuh untuk patah lagi.
Sudah sembuh dari kecewa, masa iya harus menanggung kecewa lagi?

Hoho tidak boleh. Ya tapi gimana dong? Kalau harus kecewa, ya sudah ikhlas saja.😊 Inshaa Allah, Allah ganti dengan kebahagiaan.

Kesibukan mungkin menyita waktumu sehingga sedikitpun tidak berpikir untuk menuntaskan pembicaraan. Tidak ada gunanya juga sih untuk membicarakannya lagi. (Maybe)

Sedikit-sedikit bibir melengkung ke atas, sedikit-sedikit melengkung ke bawah.

Benar juga ya, yang paling membuat bahagia, justru berbalik buat kecewa. Tapi kenapa harus dikecewakan kalau bisa dibahagiakan?

Haha.
😀